SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Fenomena Erep-erep (Ketindihan)

5 years ago

Fenomena Erep-erep (Ketindihan)

Fenomena Ketindihan

(Syariat dan Medis) 

 

Oleh: Ustadz dr. Raehanul Bahraen

 

Sebagian kita pernah merasakan fenomena ketindihan. Ingin bangun tidur tapi tidak bisa, sulit bergerak dan ingin berteriak juga sulit. Belum lagi ditambah beberapa bayangan seram misalnya dikejar sesuatu yang menakutkan atau sedang ada yang mengancam jika kita tidak bergerak. Benarkah ini gangguan setan/jin? 

atau ada logika yang bisa dicerna oleh akal?

 

Berikut sedikit pembahasannya.

 

Pandangan medis

 

Ketindihan ternyata ada penjelasannya secara medis. Ini yang disebut dengan istilah sleep paralysis atau kelumpuhan tidur. ini bisa terjadi pada siapa saja dan diklaim bahwa semua orang pernahmengalaminya sekali atau dua kali. Dan yang perlu diketahui baik-baik bahwa sleep paralysis tidaklah berbahaya.

 

Untuk mengetahui penyebabnya kita perlu tahu bahwa ketika tidur aktifitas otak mengalami dua hal berbeda, yang disebut tidur aktif atau REM (rapid eye movement) dan tidur non-REM.

 

Non-REM selama tidur akan menghasilkan gerakkan selagi Anda tidur, seperti berbicara dalam tidur atau berjalan ketika tidur. Sedangkan REM adalah fase tidur yang dalam dan bisa terjadi mimpi sleep paralysis terjadi Ketika otak mendadak terbangun dari tahap REM tapi tubuh belum siap. Kita sadar tetapi tubuh belum bisa bergerak ditambah juga halusinasi bisa jadi karena mimpi dan faktor lainnya.

 

Jangan khawatir sleep paralysis hanya terjadi sekitar 2-3 menit. Setelah itu otak dan tubuh akan aktif dan terhubung kembali.

 

Sampai sekarang penyebab pasti sleep paralysis belum diketahui. Diduga sebabnya adalah kebiasaan tidur menghadap ke atas, pola tidur tak tentu (kurang tidur), stress, dan perubahan mendadak pada lingkungan atau lifestyle.

 

Dari segi syariat

 

Bisakah karena gangguan setan? 

Bisa saja. Hal ini bisa juga kombinasi keduanya sebagaimana orang gila. 

Jika ia banyak masalah dan stress, ia bisa jadi gila jika dibiarkan dan bertumpuk. Orang yang seperti ini hati, iman dan jiwanya lemah sehingga gampang terpengaruh setan bahkan merasukinya.

 

Demikian juga bahwa penyakit dan gangguan fisik bisa muncul karena sebab fisik atau gangguan dari setan sebagaimana tentang hadits ‘ain (gangguan yang ditimbulkan dari pandangan yang tidak baik semisal hasad, pujian dan lain-lain)

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

العين حقُ ولو كان شيء سابق القدر لسبقته العين

 

“Pengaruh ‘ain itu benar-benar ada, seandainya ada sesuatu yang bisa mendahului takdir, ‘ainlah yang dapat melakukannya.” (HR. Muslim)

 

Dan mimpi juga bisa berasal dari setan yaitu mimpi buruk dan mimpi yang bisa membuat pelakunya ketakutan atau merasa terganggu.

 

Diriwayat oleh Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu,

 

الرؤيا ثلاث حديث النفس وتخويف الشيطان وبشرى من الله

 

“Mimpi itu ada tiga macam: 

[1]bisikan hati, 

[2]ditakuti-takuti setan, dan 

[3]kabar gembira dari Allah.”[1]

 

Dalam lafadz riwayat Muslim,

 

إِذَا اقْتَرَبَ الزَّمَانُ لَمْ تَكَدْ رُؤْيَا الْمُسْلِمِ تَكْذِبُ وَأَصْدَقُكُمْ رُؤْيَا أَصْدَقُكُمْ حَدِيثًا وَرُؤْيَا الْمُسْلِمِ جُزْءٌ مِنْ خَمْسٍ وَأَرْبَعِينَ جُزْءًا مِنْ النُّبُوَّةِ وَالرُّؤْيَا ثَلَاثَةٌ فَرُؤْيَا الصَّالِحَةِ بُشْرَى مِنْ اللَّهِ وَرُؤْيَا تَحْزِينٌ مِنْ الشَّيْطَانِ وَرُؤْيَا مِمَّا يُحَدِّثُ الْمَرْءُ نَفْسَهُ فَإِنْ رَأَى أَحَدُكُمْ مَا يَكْرَهُ فَلْيَقُمْ فَلْيُصَلِّ وَلَا يُحَدِّثْ بِهَا النَّاسَ

 

“Apabila hari kiamat telah dekat, maka jarang sekali mimpi seorang muslim yang tidak benar. Dan orang yang paling benar mimpinya di antara kalian adalah yang paling benar ucapannya. Mimpi seorang muslim adalah sebagian dari 45 macam nubuwwah (wahyu). Mimpi itu ada tiga macam: 

(1) Mimpi yang baik sebagai kabar gembira dari Allah. 

(2) mimpi yang menakutkan atau menyedihkan, datangnya dari syetan. (3) dan mimpi yang timbul karena ilusi angan-angan, atau khayal seseorang. Karena itu, jika kamu bermimpi yang tidak kamu senangi, bangunlah, kemudian shalatlah, dan jangan menceritakannya kepada orang lain.”[2]

 

Jadi mimpi ada tiga penyebabnya:

 

1.mimipi yang baik dari Allah

 

2.mimpi yang buruk dari syaithan

 

3.mimpi “bunga tidur” yaitu mimpi karena terbawa pikiran atau terkejut dengan suatu peristiwa atau ada sesuatu yang terus-menerus sedang dipikirkan

 

Cara mencegahnya

 

Kita lakukan adab-adab sebelum tidur yang sudah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa doa-doa sebelum tidur. Dan juga adab-adab ketika terbangun dari tidur karena mimpi buruk. Karena Allah yang menjaga kita selama kita tidur. Keadaan tidur memang membuat kita lalai sehingga beberapa ulama (sebagian pendapat) menjelaskan bahwa tidur adalah mati “kecil”.

 

Sebagaimana dalam ayat.

 

Firman Allah Ta’ala,

 

اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَى إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

 

“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) ruh (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; Maka Dia tahanlah ruh (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan ruh yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda- tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.” (Az-Zumar : 42)

 

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, berkata,

 

أن أرواح الأحياء والأموات تلتقي في المنام، فيتعارف ما شاء الله منها، فإذا أراد جميعها الرجوع إلى أجسادها أمسك الله أرواح الأموات عنده وحبسها، وأرسل أرواح الأحياء حتى ترجع إلى أجسادها إلى أجل مسمى وذلك إلى انقضاء مدة حياتها.

 

“Sesungguhnya ruh orang yang hidup dan ruh orang mati bertemu dalam mimpi. Mereka saling mengenal sesuai yang Allah kehendaki. Ketika masing-masing hendak kembali ke jasadnya, Allah menahan ruh orang yang sudah mati di sisi-Nya, dan Allah melepaskan ruh orang yang masih hidup ke jasadnya, sampai batas waktu tertentu yaitu selama hidupnya.”[3]

 

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush shalihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam

 

@Pogung Kidul, Yogyakarta Tercinta

31 Januari 2014

 

[1] Muttafaqun ‘alaihi

[2] HR. Muslim no. 4200

[3] Tafsir At-Thabari 21/298, Muassasah Risalah, 1420 H, syamilah

 

_________

- Repost -

Dipost ulang oleh Ustadz dr. Raehanul Bahraen hafidzahullah tgl 4 Al-Muharam 1436 / 28 Oktober 2014


Silakan login untuk menulis komentar.

ARTIKEL TERKAIT

Puasa Syawal Digabung Dengan Puasa Ayyamul Bidh
Puasa Syawal Digabung Dengan Puasa Ayyamul Bidh
Ustadz DR Musyaffa' Ad Dariny,MA - 3 years ago
Cinta dan Cemburu
Cinta dan Cemburu
Ustadz Abu Fairuz Ahmad, MA - 3 years ago
Pesan Ulama: Ilmu dan Hikmah
Pesan Ulama: Ilmu dan Hikmah
Redaksi SalamDakwah - 5 years ago
Wajah Negeriku
Wajah Negeriku
Redaksi SalamDakwah - 6 years ago
Kisah Mualaf dari Jerman
Kisah Mualaf dari Jerman
Redaksi SalamDakwah - 6 years ago
© 2020 - Www.SalamDakwah.Com