SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Keutamaan Membaca Sholawat Kepada Nabi

Ustadz Abdullah Taslim MA - 5 years ago

Keutamaan Membaca Sholawat Kepada Nabi

Oleh: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA

Dipost Oleh: Al-Akh Abdurrahman

 

بسم الله الرحمن الرحيم

 

عن أنس بن مالك قال: قال رسول الله : «مَن صلَّى عليَّ صلاةً واحدةً ، صَلى اللهُ عليه عَشْرَ صَلَوَاتٍ، وحُطَّتْ عنه عَشْرُ خَطياتٍ ، ورُفِعَتْ له عَشْرُ دَرَجَاتٍ» رواه النسائي وأحمد وغيرهما وهو حديث صحيح.

 

Dari Anas bin malik beliau berkata bahwa Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang mengucapkan shalawat kepadaku satu kali maka Allah akan bershalawat baginya sepuluh kali, dan digugurkan sepuluh kesalahan (dosa)nya, serta ditinggikan baginya sepuluh derajat/tingkatan (di surga kelak)” [1].

 

Hadits yang agung ini menunjukkan keutamaan bershalawat kepada Nabi dan anjuran memperbanyak shalawat tersebut [2], karena ini merupakan sebab turunnya rahmat, pengampunan dan pahala yang berlipatganda dari Allah [3].

 

Beberapa faidah penting yang terkandung dalam hadits ini:

 

- Banyak bershalawat kepada Rasulullah merupakan tanda cinta seorang muslim kepada beliau [4], karena para ulama mengatakan: “Barangsiapa yang mencintai sesuatu maka dia akan sering menyebutnya” [5].

 

- Yang dimaksud dengan shalawat di sini adalah shalawat yang diajarkan oleh Nabi dalam hadits-hadits beliau yang shahih (yang biasa dibaca oleh kaum muslimin dalam shalat mereka ketika tasyahhud), bukan shalawat-shalawat bid’ah yang diada-adakan oleh orang-orang yang datang belakangan, seperti shalawat nariyah, badriyah, barzanji dan shalawat-shalawat bid’ah lainnya. Karena shalawat adalah ibadah, maka syarat diterimanya harus ikhlas karena Allah semata dan sesuai dengan tuntunan Nabi [6]. Juga karena ketika para sahabat bertanya kepada beliau : 

“(Ya Rasulullah), sungguh kami telah mengetahui cara mengucapkan salam kepadamu, maka bagaimana cara kami mengucapkan shalawat kepadamu?” Rasulullah menjawab: 

“Ucapkanlah: Ya Allah, bershalawatlah kepada (Nabi) Muhammad dan keluarga beliau…dst seperti shalawat dalam tasyahhud [7].

 

- Makna shalawat kepada Nabi adalah meminta kepada Allah agar Dia memuji dan mengagungkan beliau di dunia dan akhirat, di dunia dengan memuliakan peneyebutan (nama) beliau , memenangkan agama dan mengokohkan syariat Islam yang beliau bawa. Dan di akhirat dengan melipatgandakan pahala kebaikan beliau , memudahkan syafa’at beliau kepada umatnya dan menampakkan keutamaan beliau pada hari kiamat di hadapan seluruh makhluk [8].

 

- Makna shalawat dari Allah kepada hamba-Nya adalah limpahan rahmat, pengampunan, pujian, kemualian dan keberkahan dari-Nya [9]. Ada juga yang mengartikannya dengan taufik dari Allah untuk mengeluarkan hamba-Nya dari kegelapan (kesesatan) menuju cahaya (petunjuk-Nya), sebagaimana dalam firman-Nya:

 

{هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا}

 

“Dialah yang bershalawat kepadamu (wahai manusia) dan malaikat-Nya (dengan memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman” (QS al-Ahzaab:43).

 

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

 

Kota Kendari, 5 Rajab 1431 H

____________________________

Dipost ulang tgl 22 Al-Muharram 1436 / 15 Nov 2014

 

[1] HR an-Nasa’i (no. 1297), Ahmad (3/102 dan 261), Ibnu Hibban (no. 904) dan al-Hakim (no. 2018), dishahihkan oleh Ibnu Hibban, al-Hakim dan disepakati oleh adz-Dzahabi, juga oleh Ibnu hajar dalam “Fathul Baari” (11/167) dan al-Albani dalam “Shahihul adabil mufrad” (no. 643).

[2] Lihat “Sunan an-Nasa’i” (3/50) dan “Shahiihut targiib wat tarhiib” (2/134).

[3] Lihat kitab “Faidhul Qadiir” (6/169).

[4] Lihat kitab “Mahabbatur Rasul r, bainal ittibaa’ walibtidaa’” (hal. 77).

[5] Lihat kitab “Minhaajus sunnatin nabawiyyah” (5/393) dan “Raudhatul muhibbiin” (hal. 264).

[6] Lihat kitab “Fadha-ilush shalaati wassalaam” (hal. 3-4), tulisan syaikh Muhammad bin Jamil Zainu.

[7] HSR al-Bukhari (no. 5996) dan Muslim (no. 406).

[8] Lihat kitab “Fathul Baari” (11/156).

[9] Lihat kitab “Zaadul masiir” (6/398).

 


Silakan login untuk menulis komentar.

ARTIKEL TERKAIT

Perdamaian
Perdamaian
- 3 years ago
Ingin Selamat Dari Dosa ghibah ?
Ingin Selamat Dari Dosa ghibah ?
Ustadz Fachruddin Nu'man, Lc - 4 years ago
Seandainya Yang Mati Bisa Bicara
Seandainya Yang Mati Bisa Bicara
Ustadz Najmi Umar Bakkar - 3 years ago
Keutamaan Doa (Bag-1)
Keutamaan Doa (Bag-1)
Ustadz Abdulloh Zein. Lc - 4 years ago
Menjilat Muntah
Menjilat Muntah
Ustadz Abu Fairuz Ahmad, MA - 4 years ago
© 2020 - Www.SalamDakwah.Com