SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Fenomena Akhir Zaman Bagian-1

Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc - 8 years ago

Fenomena Akhir Zaman Bagian-1

Fenomena Akhir Zaman BAgian-1

 
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengabarkan tentang akhir zaman dan apa yang terjadi di sana, amatlah penting bagi kita untuk mengetahui kejadian-kejadian itu agar kita dapat menyelamatkan diri dan segera menaiki perahu Nuh, karena seorang mukmin sangat khawatir agamanya rusak, maka ia pun lari menyelamatkan agamanya, walaupun ia harus tinggal di lembah-lembah yang jauh.
            Lalu apakah kejadian yang telah dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam agar kita mempelajarinya? Di antaranya adalah:
  1. Munculnya fitnah yang bergelombang.
Fitnah yang bergelombang bagaikan gelombang lautan, silih berganti menerpa kehidupan manusia, fitnah ini telah dikabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Hudzaifahradliyallahu ‘anhu bercerita,
كُنَّا عِنْدَ عُمَرَ فَقَالَ أَيُّكُمْ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ الْفِتَنَ فَقَالَ قَوْمٌ نَحْنُ سَمِعْنَاهُ فَقَالَ لَعَلَّكُمْ تَعْنُونَ فِتْنَةَ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَجَارِهِ قَالُوا أَجَلْ قَالَ تِلْكَ تُكَفِّرُهَا الصَّلَاةُ وَالصِّيَامُ وَالصَّدَقَةُ وَلَكِنْ أَيُّكُمْ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ الْفِتَنَ الَّتِي تَمُوجُ مَوْجَ الْبَحْرِ قَالَ حُذَيْفَةُ فَأَسْكَتَ الْقَوْمُ فَقُلْتُ أَنَا قَالَ أَنْتَ لِلَّهِ أَبُوكَ قَالَ حُذَيْفَةُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ تُعْرَضُ الْفِتَنُ عَلَى الْقُلُوبِ كَالْحَصِيرِ عُودًا عُودًا فَأَيُّ قَلْبٍ أُشْرِبَهَا نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ وَأَيُّ قَلْبٍ أَنْكَرَهَا نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ بَيْضَاءُ حَتَّى تَصِيرَ عَلَى قَلْبَيْنِ عَلَى أَبْيَضَ مِثْلِ الصَّفَا فَلَا تَضُرُّهُ فِتْنَةٌ مَا دَامَتْ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ وَالْآخَرُ أَسْوَدُ مُرْبَادًّا كَالْكُوزِ مُجَخِّيًا لَا يَعْرِفُ مَعْرُوفًا وَلَا يُنْكِرُ مُنْكَرًا إِلَّا مَا أُشْرِبَ مِنْ هَوَاهُ
“Kami berada di sisi Umar, lalu ia berkata: “Siapakah diantara kalian yang mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan fitnah ?” Mereka menjawab: “Kami mendengarnya”. Ia berkata: “Mungkin yang kalian maksud adalah fitnah seseorang pada keluarga dan tetangganya?” Mereka menjawab: “Ya”. Ia berkata: “Fitnah itu dapat ditebus dengan shalat, puasa dan shadaqah. Akan tetapi siapa diantara kamu yang mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan fitnah yang bergelombang seperti gelombang lautan ?” Hudzaifah berkata: “Orang-orang diam, maka aku berkata: “Aku mendengarnya”. Ia berkata: “Engkau, bagus sekali”. Hudzaifah berkata: ” Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Fitnah akan ditampakkan kepada hati seperti tikar seutas demi seutas, hati mana saja yang menerimanya akan diberikan titik hitam dan hati mana saja mengingkarinya akan diberi titik putih, sehingga menjadi dua hati: Hati yang putih bagaikan batu shofa, tidak terpengaruh oleh fitnah selama langit dan bumi masih ada, dan hati yang hitam seperti cangkir yang terbalik; tidak mengenal yang ma’ruf dan tidak mengingkari yang mungkar kecuali yang sesuai dengan hawa nafsunya”. (HR Muslim).[1]
            Al Hafidz ibnu Rajab rahimahullah menjelaskan makna fitnah yang bergelombang itu, katanya: “Adapun fitnah yang umum yaitu fitnah yang bergelombang seperti gelombang lautan yang datang silih berganti, fitnah yang pertama kali terjadi adalah terbunuhnya Utsman bin Affan, kemudian munculnya perpecahan diantara kaum muslimin, sebagian kelompok mengkafirkan kelompok lainnya dan menumpahkan darah saudaranya…”.[2]
            Subhanallah, fitnah ini amat dahsyat karena berasal dari syubhat pemikiran yang merusak atau syahwat ketamakan terhadap kesenangan dunia, sehingga diantara manusia ada yang beriman di pagi hari dan di sore harinya menjadi kafir, ia beriman di sore hari dan di pagi harinya ia menjadi kafir, sebagaimana dalam hadits:
بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنْ الدُّنْيَا
“Bersegeralah beramal sebelum datangnya fitnah yang bagaikan malam yang gelap gulita, seseorang beriman di waktu pagi dan menjadi kafir di waktu sore, beriman di waktu sore dan menjadi kafir di waktu pagi, ia menjual agamanya dengan kesenangan dunia”. (HR Muslim).[3]
            Al Hasan Al Bashri berkata: “Beriman di waktu pagi” artinya di waktu pagi ia masih mengharamkan darah, harta dan kehormatan saudaranya, namun di waktu sore ia menganggapnya halal”.[4] Ini adalah salah satu contoh yang diberikan oleh imam Al Hasan Al bashri, beliau mengisyaratkan kepada syubhat pemikiran yang amat kuat sehingga ia menganggap halal darah dan harta saudaranya yang sebelumnya ia haramkan. Syahwat ketamakan menjadikan gelap mata dan pikiran, maka ia tidak peduli dengan batasan-batasan Allah dan berusaha menghalalkan apa yang Allah haramkan dengan berbagai macam cara.
            Seorang mukmin yang hatinya bercahaya dengan iman dan telah merasakan manisnya iman, merasa khawatir agamanya menjadi rusak oleh fitnah yang dahsyat ini, ia berkata: “Inilah yang akan membinasakanku”. Sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
وَتَجِيءُ الْفِتْنَةُ فَيَقُولُ الْمُؤْمِنُ هَذِهِ مُهْلِكَتِي ثُمَّ تَنْكَشِفُ وَتَجِيءُ الْفِتْنَةُ فَيَقُولُ الْمُؤْمِنُ هَذِهِ هَذِهِ
“Datang fitnah, maka seorang mukmin berkata: “Ini yang akan membinasakanku”. Kemudian fitnah itu pergi, lalu datang lagi fitnah lain, maka seorang mukmin berkata: “Ini yang akan membinasakanku…”. (HR Muslim).[5]
            Maka selamatkanlah dirimu wahai hamba Allah ! larilah dengan membawa agamamu ! walaupun engkau harus tinggal di puncak gunung atau di lembah-lembah
يُوشِكَ أَنْ يَكُونَ خَيْرَ مَالِ الرَّجُلِ غَنَمٌ يَتْبَعُ بِهَا شَعَفَ الْجِبَالِ وَمَوَاقِعَ الْقَطْرِ يَفِرُّ بِدِينِهِ مِنْ الْفِتَنِ
“Hampir-hampir harta seseorang yang paling baik adalah kambing yang ia pelihara di puncak gunung dan lembah, ia lari membawa agamanya dari fitnah”. (HR Bukhari).[6]
            Ibnu Rajab berkata: “Ia lari karena khawatir agamanya akan rusak akibat masuk ke dalam fitnah, karena orang yang masuk dalam fitnah dan ikut berperang merebut tahta tak akan selamat dari dosa, ia akan membunuh orang yang haram darahnya atau mengambil harta dengan tanpa hak atau setidaknya ia membantunya baik dengan perkataan dan sebagainya…”.[7]
 
Sebab-sebab munculnya fitnah yang bergelombang
            Yang harus kita ingat bahwa munculnya fitnah ini adalah merupakan kehendak kauniyah dari Allah Rabbul ‘alamin, dan dibaliknya ada hikmah-hikmah yang agung diantaranya adalah bahwa Allah ingin menguji sebagian manusia dengan sebagian lainnya, agar diketahui orang yang benar keimanannya dari orang yang binasa, Allah berfirman:
إِلاَّمَن رَّحِمَ رَبُّكَ وَلِذَلِكَ خَلَقَهُمْ وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لأَمْلأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
“Kalaulah Rabbmu menghendaki, Ia akan menjadikan manusia satu umat, namun mereka akan senantiasa berselisih. Kecuali orang yang dirahmati oleh Rabbmu, untuk itulah Allah menciptakan mereka, dan telah sempurna kalimat Rabbmu bahwa sesungguhnya Aku benar-benar akan memenuhi Neraka Jahannam dengan Jin dan manusia semuanya”. (Huud : 119).
            Munculnya fitnah ini pasti karena adanya sebab-sebab yang telah Allah kehendaki, diantara sebab itu adalah:
            Pertama : Makar musuh islam terhadap kaum muslimin.
            Semenjak munculnya islam yang menerangi pelosok-pelosok negeri, musuh-musuh islam tak pernah diam melakukan makar dan tipu daya terhadap kaum muslimin, makar yang pertama kali mereka lakukan adalah pembunuhan Umar bin Khathab radliyallahu ‘anhu oleh seorang Majusi yang bernama Abu Lulu’ah semoga Allah melaknatnya. Dengan terbunuhnya Umar pecahlah pintu fitnah dan datanglah gelombang fitnah yang tak pernah berhenti sampai hari ini.
            Di zaman Utsman bin Affan, menyusup musuh islam yang bernama Abdullah bin Saba orang Yahudi yang pura-pura masuk islam, ia melancarkan tipu dayanya dengan cara memprovokasi dan memanas-manasi hati kaum muslimin dengan seruannya yang menipu dibawah kalimat “amar ma’ruf nahi mungkar” seraya berkoar: “Umat ini butuh kepada ishlah, dan kebaikan negeri ini telah hilang dan rusak dan sebab utamanya adalah khalifah Utsman bin Affan, dan tidak mungkin terjadi ishlah kecuali dengan memulai dari kekhilafahan”.[8]
            Maka berkumpullah orang-orang bodoh yang termakan oleh provokasi dan makar busuk orang Yahudi itu di bawah bendera Abdullah bin Saba, mereka mengepung Utsman bin Affan dan terjadilah peristiwa yang memilukan dimana mereka membunuh Utsman dengan amat bengis dan kejam. Dan Abdullah bin Saba terus beraksi dengan meniup api permusuhan sehingga terjadilah perang saudara di antara kaum muslimin, disamping itu ia menyebarkan pemikiran sesat yang mengatakan bahwa Ali adalah orang yang berhak menjadi khalifah setelah Rasulullah, bahkan menyatakan bahwa Ali adalah titisan Allah.
            Perpecahan demi perpecahan terus muncul akibat pemikiran yang menyesatkan, munculnya khawarij, syi’ah, murji’ah, qadariyah dan firqah sesat lainnya semakin merobek dan mencabik-cabik kaum muslimin, sebagian mereka mengkafirkan dan menumpahkan darah  sebagian yang lainnya.
            Terlebih di zaman ini, musuh-musuh islam terus menerus merusak negeri-negeri islam baik dengan kekuatan bersenjata atau menguasai perekonomian dan media atau menebarkan pemikiran yang menyesatkan, menuduh islam sebagai agama teroris bahkan melecehkan Nabi Muhamad shallallahu ‘alaihi wasallam.
            Kita memohon kepada Allah agar mengagalkan segala makar dan tipu daya mereka, dan menjadikannya senjata makan tuan untuk mereka, sesungguhnya Dia Maha kuat lagi Maha perkasa.
            KeduaSikap remeh untuk ittiba’ kepada Al Qur’an dan sunnah terutama dalam perselisihan.
            Karena kunci kebinasaan adalah menyelisihi perintah Allah dan Rasul-Nya. Allah Ta’ala berfirman:
فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
“Hendaklah waspada orang-orang yang menyelisihi perintah-Nya untuk ditimpa fitnah atau ditimpa adzab yang pedih”. (An Nuur : 63).
            Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Maksud ayat itu adalah hendaklah orang yang menyelisihi syari’at Rasul waspada dan takut (untuk ditimpa fitnah) di dalam hati mereka berupa kekafiran, atau kemunafikan atau bid’ah, (atau ditimpa adzab yang pedih) di dunia dengan dibunuh, atau ditegakkan had atau dipenjara dan sebagainya”.[9]
             Ayat ini amat dalam dan tajam, memberitakan kepada kita penyakit yang menimpa umat ini dan sebab-sebabnya, yang terbesar adalah menyelisihi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan ketika umat ini menyelisihi Rasul datanglah bencana besar berupa fitnah yang bergelombang, kaum muslimin pun terpecah belah karena lebih berbangga kepada ra’yunya dan hawa nafsu kelompoknya, masing-masing kelompok mempunyai tokoh dan fanatisan yang siap membela kelompok atau pemimpinnya bila diusik atau dikeritik. Benar apa yang disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:
فَإِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ كَثْرَةُ مَسَائِلِهِمْ وَاخْتِلَافُهُمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ
“Sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kamu adalah banyak bertanya dan menyelisihi Nabi mereka”. (HR Bukhari dan Muslim).[10]
            Ketiga: Munculnya maksiat dan ditinggalkannya amar ma’ruf dan nahi munkar.
            Tersebarnya kesyirikan, bid’ah, khurafat, dan maksiat adalah musibah yang melanda kaum muslimin, sampai-sampai kesyirikan dianggap tauhid dan tauhid dianggap syirik, sunnah dianggap bid’ah dan yang ma’ruf dianggap sebagai kemungkaran, disamping itu kaum muslimin disibukkan dengan urusan duniawi dan mengikuti hawa nafsu dan syahwat. Cinta dunia membuat mereka mabuk dan tak perduli dengan agama Allah sehingga mereka tak mau bahkan enggan untuk membela agama-Nya, akhirnya kehinaanlah yang menguasai mereka.
إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمْ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ
“Apabila kamu berjual beli dengan cara riba, mengambil ekor sapi, rela dengan tanaman dan meninggalkan jihad (membela agama)[11], Allah akan kuasakan kehinaan kepadamu dan Dia tidak akan mencabutnya sampai kamu kembali kepada agamamu (yang benar)”. (HR Abu Dawud dan lainnya).[12]
            Di sisi lain, para pemuka agama banyak yang diam seribu bahasa, bahkan menyembunyikan kebenaran karena mengharapkan suara dan sedikit dari kesenangan dunia, sehingga gelombang fitnah semakin dahsyat, dan bencana datang bertubi-tubi karena ulah perbuatan manusia. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَا مِنْ قَوْمٍ يُعْمَلُ فِيهِمْ بِالْمَعَاصِي ثُمَّ يَقْدِرُونَ عَلَى أَنْ يُغَيِّرُوا ثُمَّ لَا يُغَيِّرُوا إِلَّا يُوشِكُ أَنْ يَعُمَّهُمْ اللَّهُ مِنْهُ بِعِقَابٍ
“Tidaklah maksiat dilakukan pada suatu kaum, tetapi mereka tidak mengingkarinya padahal mereka mampu merubahnya kecuali Allah akan meratakan adzab kepada mereka”. (HR Abu Dawud dan lainnya).[13]
Keadaan ini membuat panas hati orang-orang yang masih ada padanya secercah cahaya iman, mereka pun bangkit dengan semangat yang membara, namun sayang semangat yang tidak di dampingi oleh ilmu dan ulama, yang ada hanya semangat membabi buta, hingga islam semakin terkesan keras dan arogan. Kita hanya bisa mengerutkan dahi dan berkata kepada mereka: “Terima kasih untuk kalian wahai pemuda islam, semoga Allah memberikan pahala atas niatmu yang baik dan kecemburuanmu terhadap islam, bekalilah dirimu dengan ilmu dan cintailah para ulama, mintalah nasehat kepada mereka sebelum melakukan aksi, agar perjuanganmu di berkahi oleh Allah dan tidak menimbulkan mafsadah yang lebih besar…”.

Artikel www.cintasunnah.com

[1] Muslim 1/128 no 144.
[2] Ibnu Rajab, fathul bari 3/36 tahqiq Abu Mu’adz Thariq bin ‘Audlullah bin Muhamad.
[3] Muslim 1/110 no 118.
[4] Al Baghawi, syarhussunnah 15/15 tahqiq Syu’aib Al Arnauth.
[5] Muslim 3/1472 no 1844.
[6] Bukhari no 19.
[7] Ibnu Rajab, Fathul bari 1/100.
[8] Muhamad Al ‘Aqil, Al Fitnah hal 47.
[9] Ibnu Katsir, Tafsir Al Qur’an Al ‘Adziem 5/435 tahqiq Hani Al Haj.
[10] Bukhari no 7288 dan Muslim 2/975 no 1337.
[11] Artinya lebih mencintai dunia dan tidak mau membela agama Allah.
[12] Abu Dawud no 3462 dari jalan Haywah bin Syuraih dari Ishaq Abu Abdirrahman Al Khurrasani dari ‘Atha Al Khurrasani dari Nafi’ dari ibnu Umar. Qultu: “Sanad hadits ini lemah karena Ishaq bin Asid Abu Abdirrahman adalah perawi yang lemah demikian pula ‘Atha Al Khurrasani. Namun imam Ahmad no 4593 meriwayatkan dari jalan Abu Bakar bin ‘Ayyasy dari Al A’masy dari Atha’ bin Abi Rabah dari ibnu Umar. Qultu: “Sanad ini shahih”. Dan hadits ini dishahihkan oleh syaikh Al Bani dalam silsilah hadits shahih no 11.
[13] Abu Dawud no 4338 dari jalan Husyaim dari Isma’il bin Abi Khalid dari Qais bin Abi Hazim dari Abu Bakar Ash Shiddiq. Qultu: “Sanad hadits ini shahih”. Dan hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Bani dalam silsilah hadits shahih no 3353.

Silakan login untuk menulis komentar.

ARTIKEL TERKAIT

Sepucuk Surat Untuk Sahabat
Sepucuk Surat Untuk Sahabat
Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc - 6 years ago
Foward Dari Teman Tercinta
Foward Dari Teman Tercinta
Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc - 4 years ago
Hutang...??
Hutang...??
Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc - 6 years ago
Sabar dikala Senang
Sabar dikala Senang
Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc - 8 years ago
Istihadhoh Pembatal Wudhu
Istihadhoh Pembatal Wudhu
Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc - 6 years ago
Tidak Ada Kebaikan Padanya
Tidak Ada Kebaikan Padanya
Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc - 6 years ago
Berdiri Hormati Kiyai
Berdiri Hormati Kiyai
Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc - 6 years ago
Makna Bismillah
Makna Bismillah
Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc - 8 years ago
Penjara
Penjara
Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc - 5 years ago
© 2020 - Www.SalamDakwah.Com