SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Hikmah Dibalik Kisah Mughits dan Barirah

5 years ago

Hikmah Dibalik Kisah Mughits dan Barirah

Adalah ia seorang budak wanita (amah) yang dibeli dan dimerdekakan Aisyah radhiyallahu anha. Setelah merdeka Barirah memilih hidup sendiri yaitu bercerai dari suaminya Mughits seorang budak hitam milik bani Fulan. Bekas suaminya mughits selalu

menguntitnya dimanapun Barirah berjalan digang-gang kota Madinah. Kisah cinta Mughits yang mendalam kepada Barirah sebaliknya kebencian yang dimiliki Barirah kepada suaminya terkenal di kota Madinah. Kisahnya terangkai dengan indah dalam hadits yang mulia dari berbagai jalan dan para ulamapun menuangkannya dalam

kitab-kitab mereka. Ketaatan Barirah kepada Rasulullah nampak dalam hadits ini,

suatu hikmah yang harus diteladani kita semua dimana kebencian hati Barirah kepada Mughits akan ia kesampingkan jikalau Rasulullah memerintahkan ia rujuk kembali kepada suaminya.

 

Ya, suatu ketaatan yang ia dahulukan dan yang ia utamakan dihadapan Nabinya walau ketaatan itu sungguh bertentangan dengan hati nuraninya. Ia tahu bahwa dengan taat kepada Nabinya yang ia cintai maka akan mengantarkannya kepada keridhaan Rabbnya. Suatu pengorbanan yang sangat mahal karena ia harus melawan hawa nafsunya, melawan kebenciannya kepada bekas suaminya, jika memang ia adalah benar-benar perintah maka ia akan taat untuk kembali kepada bekas suaminya.

 

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu bahwasanya suami Barirah adalah seorang hamba yang bernama Mughits, seolah-olah saya melihatnya berkeliling dibelakangnya sambil menangis dan air matanya mengalir hingga membasahi jenggotnya. Lalu Nabi shalallahu alaihi wassalam bersabda kepada Abbas:

 

“Wahai Abbas tidakkah kamu takjub terhadap kecintaan Mughits kepada Barirah dan dan kebencian Barirah kepada Mughits?” Lalu Nabi bersabda: “Seandainya kamu kembali (rujuk) kepadanya”. Ia (Barirah) berkata:”Wahai Rasulullah, apakah engkau memerintahkanku untuk rujuk?” Beliau bersabda: “Aku hanya memberi syafa’at (pertolongan). Ia menjawab: ” Saya tidak lagi membutuhkan dirinya (Mughits)”. 

 

(HR. Bukhari no.5026, Fathul Bari juz 10 hadits no.5283)

 

Dari Ikrimah dari Ibnu Abbas katanya:”Itu adalah Mughits seorang hamba Bani Fulan yakni suami Barirah, seolah-olah saya melihatnya mengikuti Barirah di gang-gang Madinah menangisinya”.

 

(HR. Bukhari no.5024, Fathul Bari 10/5281)

 

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu katanya: “Suami Barirah adalah seorang budak hitam yang bernama Mughits seorang budak milik Bani Fulan seolah-olah saya melihatnya berkeliling dibelakang Barirah digang-gang Madinah”. 

 

(HR. Bukhari no.5025, Fathul Bari 10/5282)

 

Imam Ibnu Hajar Al Asqalani menambahkan dalam riwayat Ibnu Majah dengan kata-kata: Andaikan saja engkau mau rujuk kembali dengannya karena ia adalah Bapak dari anakmu” Dari makna ini dapat difahami bahwa Barirah memiliki anak dari hasil perkawinannya dengan Mughits.

(Fathul Bari 10/514)

 

Penulis mengutip sebagian perkataan Ibnu Hajar Asqalani dalam beberapa point yang penting pada hadits diatas yaitu pada hadits no.5283 secara ringkas *Kemudian beliau menjelaskan pada kalimat A ta’muruuni? 

Artinya Apakah engkau menyuruhku? yaitu apakah Engkau (Rasulullah) menginginkan dengan kata-kata beliau yaitu Law Raja’tihi artinya “Jika saja engkau mau kembali (rujuk) dengannya” merupakan suatu perkara yang menjadi wajib atasku?. 

Maka jawaban beliau shalallahu alaihi wassalam adalah “Tidak ” dari jalan Ibnu Mas’ud secara mursal dengan sanad yang shahih.

 

Kemudian kalimat innama ana asyfa’u yaitu artinya aku hanya memberi syafa’at. Maknanya adalah aku (beliau shalallahu alaihi wassalam) mengatakan perkataan tersebut atas sebab ingin menolong bukan ingin menjadikan perkataaanku menjadi wajib atasmu (atas diri Barirah).

 

Maka Jawaban Barirah adalah Fala hajata li fihi artinya Saya tidak membutuhkan dirinya lagi, maknanya adalah jika Engkau tidak mewajibkan hal itu atas diriku maka aku akan memilih untuk tidak kembali padanya.(Fathul Bari 10/514)

 

Dengan sangat mudah kita bisa memahami ketaatan Barirah pada hadits di atas jika memang beliau tidak memerintahnya maka ia memilih untuk hidup sendiri tidak kembali kepada bekas suaminya. Dan, bisa kita lihat bagaimana kemuliaan akhlak Rasulullah shalallahu alaihi wassalam yang tidak menggunakan kedudukannya sebagai Nabi untuk menyuruh Barirah rujuk, ia hanyalah sebuah anjuran atau saran saja bukan suatu kewajiban yang harus ditaati. Masya Allah. 

 

Betapa indahnya perilaku Rasulullah shalallahu alaihi wassalam dan betapa tingginya ketaatan Barirah kepada beliau.

 

Ya ukhti,….

akan tetapi pada masa kita banyak kita temui saudara atau saudari kita yang mengorbankan ketaatannya kepada Allah dan rasul-Nya dengan menuruti hawa nafsu mereka.Mereka tidak mampu menentang hawa nafsunya.Berapa banyak saudari kita yang rela menikah dengan laki-laki kafir karena rasa cinta mereka yang besar, cinta buta yang menyesatkan??

Dan saudari kita yang masih ragu untuk berhijab karena berbagai alasan dan kendala, dan masih banyak lagi contoh lainnya. 

 

Tidakkah kita lihat pada diri Barirah bahwa pada masa itu ia hanyalah seorang bekas budak?? tapi lihatlah keimanannya.Ia memahami dengan benar, bahwa sekiranya Rasulullah memerintahkannya maka tiada yang bisa ia lakukan melainkan taat pada perintahnya walau hatinya diliputi kebencian ketidak sukaan yang mendalam tapi ia akan patuh dan taat pada perintah Nabinya. Tidakkah engkau mengambil pelajaran??.

 

Semoga dari kisah Barirah di atas dapat menjadi penyemangat bagi hati kita untuk semakin taat pada perintah Nabi kita, mengikuti dan mencintai sunnahnya dan berusaha mengaplikasikan dalam kehidupan kita sehari-hari.

 

Wallahu ‘alam bisshowwab.

 

Artikel Jilbab.or.id

Sydney, REPOST: 30 November 2004

 

*Penjelasannya sangat panjang Insya Allah ukhti bisa lihat secara lengkap pada kitab tersebut karena tidak mungkin menterjemahkannya secara keseluruhan disini akan memakan tempat.

 

Sumber Rujukan:

 

1. Terjemah Shahih Bukhari, jilid 7,Ahmad Sunarto, Asy-Syifa,Semarang.

 

2. Fathul Bari, juz 10, Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani,dengan tahkik Syaikh Abdul Aziz bin Baaz, terbitan Beirut, Lebanon,cet.2000 M.


Silakan login untuk menulis komentar.

ARTIKEL TERKAIT

Pantun " Karena Bini Malas Mengaji "
Pantun " Karena Bini Malas Mengaji "
Ustadz Abu Fairuz Ahmad, MA - 3 years ago
Tentang Mimpi
Tentang Mimpi
Redaksi salamdakwah.com - 7 years ago
Nisfu Syaban
Nisfu Syaban
Redaksi SalamDakwah - 5 years ago
Wanita Yang Pandangannya Terbatas
Wanita Yang Pandangannya Terbatas
Ustadzah Ummu Faynan,Lc - 3 years ago
Renungan Untuk Para Aktivis Dakwah
Renungan Untuk Para Aktivis Dakwah
Ustadz Abu Fairuz Ahmad, MA - 3 years ago
© 2019 - Www.SalamDakwah.Com