SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Larangan Memperjual-belikan Hasil Sembelihan Qurban

Ustadz Abu Riyadl Nurcholis Majid - 5 years ago

Larangan Memperjual-belikan Hasil Sembelihan Qurban

 Larangan memperjual-belikan hasil sembelihan qurban yang telah diqurbankan..

Tidak diperbolehkan memperjual-belikan bagian hewan sembelihan, baik daging, kulit, kepala, tengkleng, bulu, tulang maupun bagian yang lainnya. 

Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan aku untuk mengurusi penyembelihan onta qurbannya. Beliau juga memerintahkan saya untuk membagikan semua kulit tubuh serta kulit punggungnya. Dan saya tidak diperbolehkan memberikan bagian apapun darinya kepada tukang jagal.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bahkan terdapat ancaman keras dalam masalah ini, sebagaimana hadis berikut:

من باع جلد أضحيته فلا أضحية له

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang menjual kulit hewan qurbannya maka ibadah qurbannya tidak ada nilainya.” (HR. Al Hakim 2/390 & Al Baihaqi. Syaikh Al Albani mengatakan: Hasan)

Tetang haramnya pemilik hewan menjual kulit qurban merupakan pendapat mayoritas ulama, meskipun Imam Abu Hanifah menyelisihi mereka. Namun mengingat dalil yang sangat tegas dan jelas maka pendapat siapapun harus disingkirkan.

Catatan:

Termasuk memperjual-belikan bagian hewan qurban adalah menukar kulit atau kepala dengan daging atau menjual kulit untuk kemudian dibelikan kambing. Karena hakekat jual-beli adalah tukar-menukar meskipun dengan selain uang.

 Transaksi jual-beli kulit hewan qurban yang belum dibagikan adalah transaksi yang tidak sah. Artinya penjual tidak boleh menerima uang hasil penjualan kulit dan pembeli tidak berhak menerima kulit yang dia beli. Hal ini sebagaimana perkataan Al Baijuri: “Tidak sah jual beli (bagian dari hewan qurban) disamping transaksi ini adalah haram.” Beliau juga mengatakan: “Jual beli kulit hewan qurban juga tidak sah karena hadis yang diriwayatkan Hakim (baca: hadis di atas). (Fiqh Syafi’i 2/311).

Bagi orang yang menerima kulit dibolehkan memanfaatkan kulit sesuai keinginannya, baik dijual maupun untuk pemanfaatan lainnya, karena ini sudah menjadi haknya. Sedangkan menjual kulit yang dilarang adalah menjual kulit sebelum dibagikan (disedekahkan), baik yang dilakukan panitia maupun shohibul qurban.

Nasehat & Solusi untuk masalah kulit

Satu penyakit kronis yang menimpa ibadah qurban kaum muslimin bangsa kita, mereka tidak bisa lepas dari ‘fiqh praktis’ menjual kulit atau mengupah jagal dengan kulit. Memang kita akui ini adalah jalan pintas yang paling cepat untuk melepaskan diri dari tanggungan mengurusi kulit. Namun apakah jalan pintas cepat ini menjamin keselamatan???

Bertaqwalah kepada Allah wahai kaum muslimin… sesungguhnya ibadah qurban telah diatur dengan indah dan rapi oleh Sang Peletak Syari’ah. 

Jangan coba-coba untuk keluar dari aturan ini karena bisa jadi qurban kita tidak sah. Berusahalah untuk senantiasa berjalan sesuai syari’at meskipun jalurnya ‘kelihatannya’ lebih panjang dan sedikit menyibukkan. Jangan pula terkecoh dengan pendapat sebagian orang, baik ulama maupun yang ngaku-ngaku ulama. Karena manusia yang berhak untuk ditaati secara mutlak hanya satu yaitu Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka semua pendapat yang bertentangan dengan hadis beliau harus dibuang jauh-jauh.

Tidak perlu bingung dan merasa repot. Bukankah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu pernah mengurusi qurbannya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang jumlahnya 100 ekor onta?! Tapi tidak ada dalam catatan sejarah bahwa Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu bingung ngurusi kulit dan kepala. Demikianlah kemudahan yang Allah berikan bagi orang yang secara penuh mengikuti aturan syari’at. Namun bagi mereka (baca: panitia) yang masih merasa bingung ngurusi kulit, bisa dilakukan beberapa solusi berikut:

 Kumpulkan semua kulit, kepala, dan kaki hewan qurban. Tunjuk sejumlah orang miskin sebagai sasaran penerima kulit. Tidak perlu diantar ke rumahnya, tapi cukup hubungi mereka dan sampaikan bahwa panitia siap menjualkan kulit yang sudah menjadi hak mereka. Dengan demikian, status panitia dalam hal ini adalah sebagai wakil bagi pemilik kulit untuk menjualkan kulit, bukan wakil dari shohibul qurban dalam menjual kulit.

 Serahkan semua atau sebagian kulit kepada yayasan islam sosial (misalnya panti asuhan atau pondok pesantren). (Terdapat Fatwa Lajnah yang membolehkan menyerahkan bagian hewan qurban kepada yayasan).

 

Dishare Ustadz Abu Riyadl, Lc hafidzahullah tanggal 6 Dzulqo'dah 1435 / 1 September 2014


Silakan login untuk menulis komentar.

ARTIKEL TERKAIT

Rajin Ikut Pengajian tapi Malas Ibadah
Rajin Ikut Pengajian tapi Malas Ibadah
Ustadz Abu Riyadl Nurcholis Majid - 6 years ago
Siapakah Yang Mendapatkan Keutamaan Lailatul Qodar
Siapakah Yang Mendapatkan Keutamaan Lailatul Qodar
Ustadz Abu Riyadl Nurcholis Majid - 4 years ago
Faedah Membaca Al Quran
Faedah Membaca Al Quran
Ustadz Abu Riyadl Nurcholis Majid - 5 years ago
Perjalanan Kehidupan
Perjalanan Kehidupan
Ustadz Abu Riyadl Nurcholis Majid - 5 years ago
Barometer Akhlak Seorang Lelaki Adalah Perlakuan Terhadap Istrinya
Barometer Akhlak Seorang Lelaki Adalah Perlakuan Terhadap Istrinya
Ustadz Abu Riyadl Nurcholis Majid - 4 years ago
Pahala Menjaga Shalat Sunnah Rawatib 12 Rakaat
Pahala Menjaga Shalat Sunnah Rawatib 12 Rakaat
Ustadz Abu Riyadl Nurcholis Majid Rahimahulloh - 7 years ago
Kemuliaan Pagi
Kemuliaan Pagi
Ustadz Abu Riyadl Nurcholis Majid - 5 years ago
10 Hari Pertama Dzulhijjah Dan Amalan Yang Disyariatkan
10 Hari Pertama Dzulhijjah Dan Amalan Yang Disyariatkan
Ustadz Abu Riyadl Nurcholis Majid - 6 years ago
Instropeksi Diri Sebelum Tidur
Instropeksi Diri Sebelum Tidur
Ustadz Abu Riyadl Nurcholis Majid - 5 years ago
Renungan Untuk Para Istri...
Renungan Untuk Para Istri...
Ustadz Abu Riyadl Nurcholis Majid - 5 years ago
© 2019 - Www.SalamDakwah.Com