SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Ruqyah Untuk Orang Gila dan Apakah Minta Diruqyah Tercela?

Redaksi SalamDakwah - 4 years ago

Ruqyah Untuk Orang Gila dan Apakah Minta Diruqyah Tercela?

Ruqyah Untuk Orang Gila

 

Oleh: Ustadz Aris Munandar hafidzahullah

 

عَنْ خَارِجَةَ بْنِ الصَّلْتِ التَّمِيمِىِّ عَنْ عَمِّهِ أَنَّهُ أَتَى رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَأَسْلَمَ ثُمَّ أَقْبَلَ رَاجِعًا مِنْ عِنْدِهِ فَمَرَّ عَلَى قَوْمٍ عِنْدَهُمْ رَجُلٌ مَجْنُونٌ مُوثَقٌ بِالْحَدِيدِ فَقَالَ أَهْلُهُ إِنَّا حُدِّثْنَا أَنَّ صَاحِبَكُمْ هَذَا قَدْ جَاءَ بِخَيْرٍ فَهَلْ عِنْدَكَ شَىْءٌ تُدَاوِيهِ فَرَقَيْتُهُ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ فَبَرَأَ فَأَعْطُونِى مِائَةَ شَاةٍ فَأَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَأَخْبَرْتُهُ فَقَالَ « هَلْ إِلاَّ هَذَا ». وَقَالَ مُسَدَّدٌ فِى مَوْضِعٍ آخَرَ « هَلْ قُلْتَ غَيْرَ هَذَا ». قُلْتُ لاَ. قَالَ « خُذْهَا فَلَعَمْرِى لَمَنْ أَكَلَ بِرُقْيَةِ بَاطِلٍ لَقَدْ أَكَلْتَ بِرُقْيَةِ حَقٍّ ».

 

Dari Kharijah bin Shalt at Tamimi dari pamannya, dia datang ke Madinah untuk menemui Rasulullah lantas masuk Islam. Saat hendak pulang dari Madinah menuju kampung halamannya beliau melewati suatu perkampungan. Di kampung tersebut terdapat orang gila yang dipasung dengan besi. Salah satu keluarga orang gila tersebut berkata kepada pamanku, “Kami dapat kabar bahwa nabimu mengajarkan kebaikan. Apakah anda memiliki sesuatu untuk mengobatinya?”. Pamanku lantas me-ruqyahnya dengan hanya membacakan surat alfatihah. Setelah diruqyah orang tersebut sembuh seketika. Mereka pun memberiku seratus ekor kambing. Akhirnya kudatangi Nabi dan kuceritakan apa yang telah terjadi. Beliau merespon dengan bertanya, “Apakah engkau hanya meruqyah dengan membacakan surat alfatihah?” “Tidak ada yang lain”, jawabku. Sabda Nabi, “Ambillah seratus ekor kambing tersebut sungguh engkau termasuk mendapat upah dengan ruqyah yang benar, bukan dengan ruqyah yang batil” [HR Abu Daud, hasan].

 

Diantara kandungan hadits di atas:

 

1. Boleh meruqyah non muslim

2. Orang yang baru saja masuk Islam alias muallaf boleh saja meruqyah. Jadi peruqyah tidak harus ustadz atau kyai.

3. Boleh menerima upah setelah meruqyah dengan syarat yang diruqyah sembuh dengan sebab ruqyah.

4. Upah ruqyah boleh dengan nilai yang besar, tentu saja seratus ekor kambing adalah nilai yang sangat besar.

5. Diantara cara meruqyah adalah dengan membacakan surat alfatihah.

6. Meruqyah adalah amal kebaikan karena termasuk tindakan menolong orang lain

7. Dalam hadits di atas shahabat hanya membacakan surat alfatihah sekali saja dan efek ruqyah langsung terlihat. Hal ini karena efek ruqyah itu ditentukan oleh kualitas spiritual peruqyah.

8. Zhahir hadits menunjukkan bahwa shahabat tersebut meruqyah tanpa meniup, tanpa media air dan tanpa mengusap si sakit. Cara ruqyah shahabat tersebut hanya sekedar membacakan surat alfatihah. Demikianlah salah satu model ruqyah syar’iyyah.

9. Ruqyah itu terkadang bermanfaat untuk sebagian kasus gila.

 

Beberapa catatan mengenai hadits-hadits ruqyah:

 

1. Hadits-hadits tentang meruqyah. Ada hadits yang mencela ruqyah secara mutlak dan menyebutnya dengan kemusyrikan dan hadits yang membolehkan ruqyah. Dua jenis hadits ini dikompromikan dengan memaknai hadits yang mencela manakala ruqyahnya adalah ruqyah syirkiyyah dan hadits yang membolehkan manakala ruqyahnya dengan ruqyah syar’iyyah.

2. Hadits-hadits mengenai meminta diruqyah. Ada hadits yang mencela minta diruqyah dan hadits yang menunjukkan bolehnya meminta diruqyah.

 

Minimal ada dua cara kompromi dalam hal ini:

 

Pertama, disimpulkan bahwa meminta diruqyah hukumnya makruh sebagai bentuk kompromi dua jenis hadits di atas. Kaedah fikih mengatakan bahwa makruh itu berubah menjadi mubah jika ada kebutuhan.

 

Kedua, meminta diruqyah yang dicela manakala merusak tawakkal dan mubah manakala tidak merusak tawakkal sebagaimana pendapat Syaikh Abdullah al Silmi. Pendapat beliau bisa dibaca di sini: 

 

http://ustadzaris.com/minta-ruqyah-tercela

 

25 Syawal 1435H / 21 Agustus 2014

 

***

 

Minta Diruqyah Tercela?

 

Oleh: Ustadz Aris Munandar hafidzahullah

 

Para ulama berselisih pendapat tentang hadits ini [yaitu hadits yang mengatakan bahwa salah satu ciri orang yang masuk surga tanpa hisab adalah orang yang tidak minta diruqyah, pent.].

 

Sebagian ulama berpendapat sebagaimana dalam berbagai buku syarah atau penjelasan hadits, bahwa makna hadits tersebut sebagaimana makna zhahirnya. Sehingga seorang itu meminta orang lain untuk meruqyahnya maka dia tidak akan termasuk ke dalam hadits di atas.

 

Sedangkan sebagian ulama yang lain dan mereka adalah a-immah muhaqqiqun [para ulama yang teliti dan jeli] berpendapat bahwa maksud pokok hadits hadits adalah bagian akhirnya yaitu mereka adalah orang orang yang hanya bertawakkal kepada Allah.

 

Sehingga seorang itu benar benar bertawakkal alias menggantungkan hatinya kepada Allah maka tidaklah masalah berbagai usaha yang dia lakukan asalkan dia tidak bertawakal [menggantungkan hatinya] dengan usaha yang dia lakukan.

 

Oleh karena itu jika seorang yang sakit itu meminta kepada orang lain untuk meruqyah dirinya dan dia sendiri benar benar tawakkal kepada Allah maka itu mengapa.

 

Ciri orang yang masuk surga tanpa hisab dalam hadits di atas bisa kita kategorikan menjadi dua bagian:

 

Pertama, perkara yang terlarang dalam syariat. Itulah perasaan perasaan sial. Orang yang memiliki perasaan sial itu telah menjadikan sebagian sebab seakan akan sarana tercegahnya nikmat atau terjadinya marabahaya. Oleh karena orang jahiliah manakala melihat burung terbang ke arah timur maka dia berprasangka akan timbulnya marabahaya. Namun jika dia jumpai burung terbang ke arah barat maka yang muncul adalah perasaan yang lain.

 

Allah ingin menjelaskan bahwa sebab yang diyakini oleh sebagian orang sebagai sebab padahal syariat atau hukum kausalitas tidak menetapkannya sebagai sebab maka menggantungkan hati padanya atau melakukannya adalah syirik besar jika dia menyakini bahwa sebab tersebut memberi manfaat atau bahaya dengan sendirinya. Jika tanpa keyakinan tersebut sehingga yang terjadi hanyalah menyakini sebab yang bukan sebab secara syariat atau pun hukum kausalitas yang ada di alam semesta maka itu terhitung syirik kecil yang disebut oleh para ulama dengan sebutan kufrun duna kufrin atau kekafiran yang kecil.

 

Kedua, perkara yang mengurangi kadar tawakkal seseorang. Itulah minta diobati dengan cara kay dan minta untuk diruqyah.

 

Berdasarkan uraian di atas maka orang yang memang perlu diruqyah lantas dia meminta kepada orang lain untuk meruqyah dirinya dalam keadaan dia yakin bahwa yang menyembuhkan adalah Allah sedangkan ruqyah hanyalah usaha atau lantaran sehingga tentu saja dia tidak berkeyakinan bahwasanya kesembuhan itu di tangan fulan si peruqyah maka hukum hal tersebut adalah tidak mengapa.

 

Para ulama mengatakan bahwa diantara bukti yang menunjukkan benarnya pendapat yang kedua adalah seorang itu secara umum diperintahkan untuk berobat.

 

Kita semua tahu bahwa boleh jadi kesembuhan si sakit sebabnya adalah dokter namun pada kenyataannya hal ini tidaklah terlarang. Tidaklah menutup kemungkinan, pengobatan dokter -dikarenakan lemahnya tawakkal- itu lebih berkesan dalam hati dari pada kesan yang timbul karena ruqyah.

 

Penjelasan di atas menunjukkan bahwa yang jadi pokok masalah adalah tawakal kepada Allah dengan sebenar benarnya.

 

Namun tidaklah diragukan bahwa meminta diruqyah atau diobati dengan cara kay atau semisalnya menyebabkan melemahnya tawakal seseorang kecuali jika tawakalnya benar benar terjaga. Jika tawakkal benar benar terjaga maka meminta ruqyah itu tidaklah mengapa.

 

Demikian penjelasan Syaikh Dr Abdullah bin Nashir al Sulmi mengenai permasalahan ini.

 

Penjelasan beliau bisa disimak pada menit 02:45 sampai 05:37 dalam kajian yang bisa dijumpai pada link berikut

 

http://www.safeshare.tv/w/uHrxBaSpNG


Silakan login untuk menulis komentar.

ARTIKEL TERKAIT

Cinta Itu Adalah...
Cinta Itu Adalah...
Ustadz Abu Fairuz Ahmad, MA - 4 years ago
Bukti Cinta Kepada Allah
Bukti Cinta Kepada Allah
Ustadz Najmi Umar Bakkar - 10 months ago
Barokah
Barokah
3 years ago
Wahai Penuntut Ilmu, Janganlah Kalian Berselisih..
Wahai Penuntut Ilmu, Janganlah Kalian Berselisih..
Ustadz Abu Salma Muhammad - 10 months ago
Adab & Akhlak
Adab & Akhlak
Redaksi SalamDakwah - 5 years ago
Renungan Bagi Yang Mencintai Istrinya
Renungan Bagi Yang Mencintai Istrinya
Ustadz Fadlan Fahamsyah. LC, MHI - 3 years ago
© 2019 - Www.SalamDakwah.Com