SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Benarkah Tidak Ada Penyakit Menular Dalam Pandangan Islam?

4 years ago

Benarkah Tidak Ada Penyakit Menular Dalam Pandangan Islam?

Pernahkan anda membayangkan seseorang belajar naik mobil tanpa guru atau belajar naik motor tanpa guru. Atau belajar membedah tanpa guru, hanya autodidak saja. Tentu hasilnya kurang bagus atau bahkan bisa membahayakan. Nah, begitu juga dengan belajar agama, harus pakai guru yang membimbing dan mengarahkan. Lebih-lebih menjelaskan tentang makan Al-Quran dan hadits. Tidak boleh memaknai semaunya saja karena ada penjelasannya dalam ayat lain atau hadits yang lain.

 

Begitu juga dengan contoh berikut ini. Ia paham dan percaya serta banyak bukti nyata bahwa ada penyakit menular. Kemudian ia membaca hadits yang secara dzahirnya menunjukkan tidak ada penyakit menular. Maka ia menyimpulkan dan menyebar luaskan bahwa ajaran Islam mengatakan tidak ada yang namanya penyakit menular. Maka hal ini salah dan perlu diluruskan.

 

Hal ini mereka dasarkan pada hadits.

 

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ النَّبيُّ : لاَ عَدْوَى, وَلاَ طِيَرَةَ , وَأُحِبُّ الْفَأْلَ الصَّالِحَ

 

Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah bersabda: “Tidak ada penyakit menular dan thiyarah (merasa sial dengan burung dan sejenisnya), dan saya menyukai ucapan yang baik”.[1]

 

Hal ini tentu kelihatannya bertentangan dengan kenyataan yang ada di mana kita melihat banyak sekali wabah dan penyakit yang menular, wabah ini bahkan bisa merengut nyawa sekelompok orang dengan cepat.

 

Perlu diketahui ada dalil-dalil lain yang menunjukkan bahwa Islam juga mengakui adanya wabah penyakit menular.

 

Dari Abu Hurairah dari Nabi bersabda,

 

لاَ يُوْرِدُ مُمْرِضٌ عَلَى مُصِحٍّ

 

 “Janganlah unta yang sehat dicampur dengan unta yang sakit”.[2]

 

Dan Sabda beliau,

 

فِرَّ مِنَ الْمَجْذُوْمِ فِرَارَكَ مِنَ الأَسَدِ

 

“Larilah dari penyakit kusta seperti engkau lari dari singa”.[3]

 

Maka kompromi hadits ini:

maksud dari hadits pertama yang menafikan penyakit menular adalah penyakit tersebut tidak menular dengan sendirinya, tetapi menular dengan kehendak dan takdir Allah. Berikut keterangan dari Al-Lajnah Ad-Daimah (semacam MUI di Saudi):

 

العدوى المنفية في الحديث هي: ما كان يعتقده أهل الجاهلية من أن العدوى تؤثر بنفسها، وأما النهي عن الدخول في البلد الذي وقع بها الطاعون فإنه من باب فعل الأسباب الواقية.

 

Wabah yang dinafikan dari hadits tersebut yaitu apa yang diyakini oleh masyarakat jahiliyah bahwa wabah itu menular dengan sendirinya (tanpa kaitannya dengan takdir dan kekuasaan Allah). Adapun pelaranan masuk terhadap suatu tempat yang terdapat tha’un (wabah menular) karena itu merupakan perbuatan preventif (pencegahan).[4]

 

Hal ini diperkuat dengan hadits bahwa Allah yang menciptakan pertama kali penyakit tersebut. Ia tidak menular kecuali dengan izin Allah.

 

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa seorang lelaki yang berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa onta yang berpenyakit kudis ketika berada di antara onta-onta yang sehat tiba-tiba semua onta tersebut terkena kudis, maka beliau bersabda:

 

فَمَنْ أَعْدَى الْأَوَّلَ ؟

 

“Kalau begitu siapa yang menulari (onta) yang pertama ?”[5]

 

Demikian, semoga bermanfaat.

 

@Gedung Radiopoetro, FK UGM, Yogyakarta Tercinta

 

Penyusun: Ustadz dr. Raehanul Bahraen hafidzahullah, Penulis @Muslimah.or.id

Artikel @Muslimafiyah.com 

16 Syawal 1435H / 12 Agustus 2014

 

[1]HR. Muslim no. 2223

[2]HR. Bukhari no. 5771 dan Muslim no. 2221

[3]HR. Muslim: 5380

[4] Fatwa Al-Lajnah Ad-daimah no. 16453

[5] HR. Al-Bukhari dan Muslim


Silakan login untuk menulis komentar.

ARTIKEL TERKAIT

© 2019 - Www.SalamDakwah.Com