SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Puasa Setelah Nisfu Syaban

Redaksi SalamDakwah - 6 years ago

Puasa Setelah Nisfu Syaban

Sabda Nabi صلى اللّه عليه وسلم :

 

إذا بقي نصفٌ من شَعْبَانَ فلا تصوموا

 

“Apabila tinggal separuh dari bulan Sya’ban maka janganlah kamu berpuasa”.

(HR. At-Tirmizi dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)

 

Berdasarkan hadits ini dilarang berpuasa setelah nishfu (pertengahan, pent) Sya'ban bermula dari tanggal 16 sampailah akhir bulan terutamanya sehari atau dua hari sebelum ramadhan. 

 

Menurut Imam ar-Ruyani: 

Mendahului Ramadhan dengan puasa setelah nishfu Sya’ban hukumnya adalah makruh. Adapun sehari atau dua hari sebelumnya, maka hukumnya adalah haram[5].

 

NAMUN MENURUT ULAMA’ DIKECUALIKAN DARI LARANGAN BERPUASA SETELAH NISHFU SYA’BAN KE ATAS ORANG-ORANG SEBAGAI BERIKUT:

 

Orang yang menyambung puasa yang dimulainya sebelum bulan Sya’ban masuk separuh kedua (yakni sebelum tanggal 16 Sya’ban) sekurang-kurangnya puasa pada hari nisfu Sya’ban. Dan disyaratkan puasanya itu berterusan sehingga sampai ke penghujung bulan Sya’ban.

 

Orang yang mempunyai kebiasaan puasa tertentu seperti puasa senin dan kamis, puasa selang sehari (puasa ad-dahr), kemudian puasanya itu secara kebetulannya melintasi hari-hari setelah nishfu Sya’ban.

Orang-orang yang berpuasa dengan sebab seperti nazar, kaffarah atau Qadha’ (termasuk juga qadha’ puasa sunat* ).

 

Larangan berpuasa pada hari syak, sebagaimana Rasul صلى اللّه عليه وسلم bersabda:

 

لاَ تُقَدِّمُوْا شَهْرَ رمضانَ بصومِ يوْمٍ أو يومَيْنِ إلاَّ رجلٌ كان يصومُ صومًا فَلْيَصُمْهُ

 

“Janganlah engkau mendahului Ramadhan dengan berpuasa sehari atau dua hari sebelumnya, kecuali seorang yang sudah biasa berpuasa, maka bolehlah ia berpuasa”. 

(HR. Imam Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)

 

Jadi, dimanakah posisi kita? 

Adakah kita termasuk dalam bagian orang-orang yang selalu meng-istiqomah-kan puasa sunah kita? atau hanyalah seorang hamba yang hanya mampu untuk berpuasa ke atas kewajiban fardhu-Nya saja (baca: bulan Ramadhan).

 

Wallahu A’lam…

 

Shollallaahu ‘Alaa Muhammad Wa Aalihi

 

Ibnu Dahlan El-Madary

Repost Oleh: Al-Ustadz Rochmad Supriyadi, Lc -hafidzahullah-

 

---

 

*Qadha' Puasa Sunnat

Maksudnya termasuk puasa ayyamul bidh (tanggal 13,14,15 setiap bulan Hijriyyah). والله أعلم بالصواب  

Sumber: Radio Suara Al Iman


Silakan login untuk menulis komentar.

ARTIKEL TERKAIT

Bila Jodoh Tak Kunjung Tiba
Bila Jodoh Tak Kunjung Tiba
Ustadz Abu Fairuz Ahmad, MA - 4 years ago
Doa dan Dzikir Yang Komplet
Doa dan Dzikir Yang Komplet
Ustadz Abdullah Zein Lc MA - 3 years ago
Apa Kata Dunia
Apa Kata Dunia
Ustadz Abu Fairuz Ahmad, MA - 4 years ago
Sederet Titel Agama Tapi Pemahamannya Menyimpang
Sederet Titel Agama Tapi Pemahamannya Menyimpang
Ustadz Najmi Umar Bakkar - 2 years ago
Untukmu Wahai Saudariku Muslimah
Untukmu Wahai Saudariku Muslimah
Redaksi SalamDakwah - 6 years ago
Ciri Orang yang Mendapatkan Lailatul Qadar
Ciri Orang yang Mendapatkan Lailatul Qadar
Redaksi SalamDakwah - 5 years ago
Diperlakukan Diskriminatif
Diperlakukan Diskriminatif
Ustadz DR Musyaffa' Ad Dariny,MA - 3 years ago
© 2020 - Www.SalamDakwah.Com