SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Persatuan & Perpecahan

Redaksi SalamDakwah - 6 years ago

Persatuan & Perpecahan

Alhamdulillah, washolatu wassalamu ala' Rosulillah, wa ba'du;

 

Sesungguhnya diantara prinsip aqidah Ahlus-sunnah wal Jama'ah adalah persatuan dan kasih sayang diatas Al-Haq dan kebenaran, Allah Ta'ala berfirman,

 

(Artinya) "Dan berpegang teguhlah kalian diatas tali (agama) Allah dan janganlah bercerai-berai dan ingatlah nikmat Allah kepadamu, tatkala kamu dahulu bermusuhan, lalu Allah persatukan hatimu, sehingga dengan karuniaNya kamu menjadi saling bersaudara".

(QS Ali Imron: 103)

 

Dan Allah mencela perpecahan sebagaimana firman-Nya,

 

(Artinya) "Dan janganlah kalian termasuk orang-orang yang menyekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan, setiap golongan bangga dengan apa yang ada pada golongannya".

(QS Ar-Rum: 31-32)

 

Abu Hurairah meriwayatkan dari Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam,

 

"Sesungguhnya Allah meridhoi tiga perkara, yaitu agar kalian menyembah Allah semata dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu, dan agar kalian berpegang erat dengan tali (agama) Allah dan tidak bercerai-berai." (HR. Muslim)

 

Syari'at Islam menganjurkan agar bersatu didalam kebenaran, berlemah lembut serta bekerja sama didalamnya, sebagaimana Allah berfirman,

 

(Artinya) "Dan tolong-menolonglah kalian dalam mengerjakan kebajikan dan takwa dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan."

(QS Al-Ma'idah: 2)

 

Maka disini sepantasnya untuk diperhatikan:

 

* Syari'at agama tidak menganjurkan semata-mata persatuan, akan tetapi dengan rambu jika berada diatas Al-haq dan kebenaran, sehingga tidak dibenarkan apabila bersatu dalam melakukan keburukan dan kejahatan, kemungkaran, perkara haram, dan perbuatan syahwat dan syubhat seperti minum arak dan perbuatan bid'ahnya kaum sufi dalam dzikir yang bid'ah.

 

* Bersatunya badan secara dhohir dengan adanya perbedaan aqidah adalah tercela dalam pandangan syari'at, sebagaimana Allah mencela orang yahudi dalam firmanNya,

 

(Artinya) "Permusuhan antara sesama mereka sangat hebat, kamu kira mereka itu bersatu, padahal hati mereka berpecah-belah, yang demikian dikarenakan mereka adalah orang-orang yang tidak mengerti."

(QS Al-Hasyr: 14)

 

* Syariat Islam tidak mencela perpecahan secara muthlak, jika yang berpisah dan ditinggalkan adalah kebathilan maka ini adalah terpuji secara syari'at, sebagaimana diriwayatkan oleh imam Ahmad dan Bukhary didalam adabul-mufrod, dari sahabat Mikdad radhiyallahu anhu, berkata tentang Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam,

 

"Sesungguhnya Nabi datang dengan membawa furqon, yang memisah antara kebenaran dan kebathilan, memisah antara ayah dan anaknya".

 

* Amar ma'ruf dan nahi munkar bukanlah sarana pemecah belah yang tercela, dikarenakan syariat yang menganjurkan untuk persatuan juga memerintahkan agar beramar ma'ruf nahi munkar.

Allah Ta'ala berfirman,

 

(Artinya) "Kalian (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh berbuat baik dan mencegah berbuat munkar dan beriman kepada allah."

(QS Ali-Imron: 110)

 

Bahkan menjalankan amar ma'ruf nahi munkar merupakan sebab tegaknya persatuan diatas kebenaran, maka barangsiapa mengingkari kemunkaran kepada suatu kaum yang sedang berbuat munkar, sesungguhnya ia merupakan penyeru persatuan diatas kebenaran.

Dan yang semisal ini adalah memberikan tahdzir kepada orang yang menyeleweng dari kalangan pelaku bid'ah.


Silakan login untuk menulis komentar.

ARTIKEL TERKAIT

© 2020 - Www.SalamDakwah.Com