SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Islam Bukan Terorisme

Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc - 8 years ago

Islam Bukan Terorisme

 

ISLAM BUKAN TERORISME

Islam adalah agama yang diturunkan untuk memberikan rahmat untuk alam semesta, yang berasal dari Rabb pencipta manusia Dzat yang Maha sempurna, yang Maha Tahu apa yang terbaik bagi hamba-hambaNya, yang mengharamkan kedzaliman kepada manusia, dan tidak menginginkan kesusahan untuk mereka.

Dengarkanlah Allah Ta’ala berfirman :

 

إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ النَّاسَ شَيْئًا

“Sesungguhnya Allah tidak menzalimi manusia sedikitpun “. (Yunus: 44).

Allah Ta’ala juga berfirman :

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ

“Dan Dia tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama “. (Al Hajj : 78).

Yang Allah inginkan adalah kebahagiaan untuk hamba-Nya, selamat dalam agama, dunia dan akhiratnya karena kasih sayang Allah kepada hamba-Nya melebihi kasih sayang seorang ibu kepada anaknya[1]. Maka Allah mengutus kepada kita seorang rosul yang mempunyai sifat kasih sayang kepada umatnya, Allah Ta’ala berfirman :

 

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَاعَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Sungguh, telah datang kepadamu seorang rosul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami. Ia sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman”. (At Taubah : 128).

Syari’at islam adalah syari’at yang dipenuhi dengan kasih sayang karena turun dari Allah yang Maha Penyayang melalui lisan Nabi-Nya yang sangat penyayang, yang meniadakan kesulitan dan mendatangkan kemudahan untuk manusia, Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ

“Dan Dia tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama “. (Al Hajj : 78).

Allah juga berfirman : 

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

 “Allah menginginkan untukmu kemudahan dan tidak menginginkan untukmu kesukaran”. (Al Baqarah : 185).

 

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

إِنَّ الدِّيْنَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادُّ الدِّيْنَ إِلاَّ غَلَبَهُ.

‘Sesungguhnya agama ini mudah, tidak ada orang yang memperberatnya kecuali akan kalah”. (HR Bukhari).[2]

Kasih sayang yang diajarkan islam adalah kasih sayang disertai dengan ilmu, yaitu dalam rangka memberikan manfaat kepada manusia dan menghindarkan mudlarat dari mereka, walau tidak sesuai dengan selera dan syahwat.

Simaklah perkataan ibnu Qayyim yang mengulas tentang hakikat kasih sayang, beliau berkata,” diantara perkara yang harus diketahui bahwa sesungguhnya rahmat adalah sifat yang menunjukkan penyampaian manfa’at dan mashlahat kepada hamba, walaupun si hamba tidak menyukainya, dan berat baginya. Inilah rahmat yang hakiki. Maka orang yang paling sayang kepadamu adalah yang membuatmu susah demi meyampaikan kemashlahatan dan mencegah mudlarat darimu.

Seorang ayah yang sayang kepada anaknya, akan memaksanya agar beradab dengan ilmu dan amal, dan menyusahkannya dengan cara memukul atau lainnya, serta mencegahnya dari syahwat yang akan mendatangkan mudlarat untuknya. Kapan saja seorang ayah melalaikan perkara ini untuk anaknya, maka disebabkan oleh sedikitnya rasa rahmat (kasih sayang) ia kepadanya, meskipun ia mengira telah menyayangi, memanjakan dan menyenangkannya. Namun ia adalah kasih sayang yang diiringi oleh kebodohan.

Oleh karena itu, diantara kesempurnaan rahmat Allah yang Maha Penyayang adalah memberikan berbagai macam ujian kepada seorang hamba, karena Dia yang paling tahu kemashlahatan untuknya. Maka ujian dan cobaan serta tercegahnya ia dari keinginan dan syahwatnya adalah diantara bentuk rahmat dan kasih sayang Allah kepadanya, akan tetapi si hamba dengan kejahilan dan kezalimannya malah menuduh keburukan kepada Rabbnya disebabkan cobaan tersebut, dan ia tidak mengetahui bahwa Allah ingin memberikan kebaikan kepadanya dengan ujian dan cobaan itu…

Diantara bentuk rahmat Allah kepada hamba-Nya adalah ujian yang berupa perintah dan larangan sebagai rahmat dan kasih sayang untuknya, bukan sebagai kebutuhan Allah kepada mereka dalam apa yang Ia perintahkan itu, karena Ia Maha Kaya lagi Maha Terpuji, bukan pula karena Allah bakhil terhadap mereka dalam apa yang Ia larang, karena Ia Maha Dermawan lagi Maha Mulia.[3]

Mendatangkan mashlahat dan menolak mudlarat.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah berkata: ”Allah tidaklah memerintahkan kecuali dengan sesuatu yang mashlahatnya murni atau lebih unggul. Dan tidaklah melarang kecuali dari sesuatu uang mafsadahnya murni atau lebih unggul..

Allah Ta’ala berfirman :

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِيْ الَقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku ‘adil dan berbuat ihsan (kebaikan), memberi bantuan kepada kerabat, dan Dia melarang (melakukan) perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran”. (An Nahl 16 : 90).

Tidak ada keadilan, tidak pula perbuatan ihsan kecuali kecuali telah Allah perintahkan dalam ayat ini. Tidak ada perbuatan keji dan mungkar, dan berbuat zalim kepada makhluk pada darah, harta dan kehormatan mereka kecuali telah Allah larang dalam ayat yang mulia ini. Allah mengingatkan hamba-hambaNya bahwa semua perintah Allah Ta’ala adalah baik dan bermanfaat bagi mereka, dan semua larangan-Nya adalah buruk dan berbahaya untuk mereka.”[4]

Maka, mungkinkah agama yang penuh kasih sayang ini disebut sebagai agama yang mengajarkan terorisme?! Demi Allah, yang mengatakan demikian hanyalah orang-orang yang di hatinya ada penyakit munafiq.

Cobalah renungkan sejenak tentang peraturan islam yang amat indah dan bermanfaat bagi manusia:

 

Peraturan akhlak. 

Peraturan islam adalah peraturan yang sangat mengutamakan akhlak yang mulia dan menghormati hak-hak manusia, islam amat menjaga perjanjian dan menjaga hak-hak manusia dari fitnah dan kezaliman, sebuah contoh adalah sikap islam terhadap tawanan perang agar diperlakukan dengan baik dan ihsan sampai dibebaskan dengan pemberian atau tebusan.

فَإِمَّا مَنًّا بَعْدُ وَإِمَّا فِدَاءً.

“Sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan”. (Muhammad : 4).

Menurut islam perang bukanlah dalam rangka menghancurkan dan merusak, maka islam mengharamkan membunuh orang yang tidak ikut serta berperang seperti wanita, anak-anak, dan orang tua renta. Ibnu Umar berkata,” Ditemukan seorang wanita terbunuh dalam sebagian peperangan, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang membunuh wanita dan anak-anak”.[5]

Tidak ada peraturan di dunia ini yang sangat menghormati harga diri seorang manusia, dan menjaga hak-haknya seperti peraturan islam, apabila hewan saja diperintahkan untuk berbuat baik kepadanya, bagaimana dengan manusia ??

Dari Abdullah bin Umar, sesungguhnya Rosulullah shallalahu ‘alaihi wasallam bersabda :

عُذِّبَتْ امْرَأَةٌ فِيْ هِرَّةٍ سَجَنَتْهَا حَتَّى مَاتَتْ فَدَخَلَتْ فِيْهَا النَّارُ, لاَ هِيَ أَطْعَمَتْهَا وَسَقَتْهَا إِذْ حَبَسَتْهَا وَلاَ هِيَ تَرَكَتْهَا تَأْكُلُ مِنْ خَشَاشِ الأَرْضِ.

“Seorang wanita diadzab karena seekor kucing yang ia kurung sampai mati, maka ia masuk kedalam Api Neraka karenanya, ia tidak memberinya makan tidak pula minum ketika ia mengurungnya, tidak pula membiarkannya lepas untuk memakan binatang-binatang kecil di bumi”.[6]

Dari Abu Hurairah Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي بِطَرِيْقٍ اشْتَدَّ عَلَيْهِ الْعَطَشُ فَوَجَدَ بِئْرًا فَنَزَلَ فِيْهَا فَشَرِبَ ثُمَّ خَرَجَ فَإِذَا كَلْبٌ يَلْهَثْ  يَأْكُلُ الثَّرَى مِنَ الْعَطَشِ فَقَالَ رَجُلٌُ : لَقَدْ بَلَغَ هَذَا الْكَلْبُ مِنَ الْعَطَشِ مِثْلَ الَّذِي كَانَ بَلَغَ مِنِّي. فَنَزَلَ الْبِئْرَ فَمَلأَ خُفَّهُ مَاءً ثُمَّ أَمْسَكَهُ بِفِيْهِ حَتَّى رَقَى فَسَقَى الْكَلْبَ فَشَكَرَ اللهُ لَهُ فَغَفَرَ لَهُ.

“Ketika seseorang berjalan di suatu jalan, ia tertimpa kehausan lalu ia menemukan sebuah sumur dan turun ke dalamnya untuk minum, kemudian ia keluar. Ternyata di luar ada seekor anjing yang menjilat-jilat tanah karena kehausan. Orang itu berkata,”Anjing ini sangat kehausan seperti aku tadi haus.” Lalu ia kembali turun dan memenuhi sepatunya dengan air kemudian ia menggigit dengan mulutnya sampai ia naik dan memberi minum anjing tersebut, maka Allah berterima kasih kepadanya dan mengampuni dosanya.” Para shahabat berkata,” Wahai Rosulullah, apakah kita mendapat pahala karena menolong binatang ? beliau bersabda,” Di setiap binatang yang mempunyai hati yang basah terdapat pahala.” (HR Bukhari dan Muslim7]).

Dari Syaddad bin Aus, Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

إِنَّ اللهَ كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوْا الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوْا الذِّبْحَةَ وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ وَلْيُرِحْ ذَبِيْحَتَهُ.

“Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat ihsan kepada segala sesuatu, maka apabila kamu membunuh, berbuat baiklah dalam cara membunuh, apabila kamu menyembelih berbuat baiklah dalam cara menyembelih, asahlah golokmu dan jadikan hewan sembelihannya tidak tersiksa.” (HR Muslim8]).

Sesungguhnya islam menjaga harga diri manusia dan menghormati hak-haknya baik ketika hadir, atau ketika tidak hadir, atau pada hati manusia bahkan setelah matinya. Ketika hadirs islam mengharamkan mencacinya, merendahkan, mengejeknya, dan mengharamkan darah, harta dan kehormatannya sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :

سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوْقٌ وَقِتَالُهُ كُفْرٌ.

“Mencaci seorang muslim adalah kefasikan dan memeranginya adalah kekafiran.” (HR Bukhari dan Muslim9]).

Ketika tidak hadir, islam mengharamkan mencari-cari kesalahannya, sebagaimana firman Allah Ta’ala :

وَلاَ تَجَسَّسُوْا وَلاَ يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًا.

“Janganlah kamu bertajassus (mencari kesalahan dan aib orang lain) dan janganlah sebagian kalian mengghibah sebagian lainnya.” (Al hujurat : 12).

Adapun di hati manusia, Allah melarang menuduh dan berburuk sangka padanya,

يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ.

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah olehmu kebanyakan sangkaan, sesungguhnya sebagian sangkaan itu adalah dosa.” (Al Hujurat : 12).

Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثَ وَلاَ تَحَسَّسُوْا وَلاَ تَجَسَّسُوْا وَلاَ تَحَاسَدُوْا وَلاَ تَبَاغَضُوْا وَلاَ تَدَابَرُوْا وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا.

“Jauhilah oleh kalian persangkaan, karena persangkaan itu adalah sedusta dustanya perkataan, janganlah mencari-cari aib, jangan pula memata-matai, jangan saling dengki, saling membenci, dan saling berpaling, jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR Bukhari dan Muslim).[10]

Dan setelah matinya, islam mengharamkan menyebutnya dengan keburukan, dimana mematahkan tulang seorang muslim yang telah menjadi mayat sama dengan matahkannya ketika masih hidup, dan hukum-hukum islam lainnya yang mengangkat kehormatan manusia.

Peraturan politik yang penuh kasih sayang.

Peraturan politik islam tidak mengenal kediktatoran tidak pula penipuan dan berbuat curang, seorang orientalis yang bernama Jostaf Lobon dalam kitabnya “kebudayaan arab” berkata,”Ketika kaum Nashrani mengusir kaum arab (baca ; islam.red) dari Spanyol pada tahun 1610 Masehi, mereka membunuhi kebanyakan mereka (kaum muslimin) dimana jumlah yang dibunuh hampir sekitar tiga juta jiwa, padahal ketika arab menguasai spanyol, mereka membiarkan penduduknya bersenang-senang untuk melaksanakan agamanya secara bebas, sekolah-sekolah dan kepemimpinan mereka tetap dijaga, tidak diberikan beban kecuali membayar jizyah yang ringan. Toleransi kaum arab telah sampai kepada derajat yang sangat jarang terjadi di zaman ini.”

Ketika kaum muslimin menang melawan Tartar, dan raja-raja mereka memeluk islam, kaum Tartar membebaskan tawanan-tawanan dari kaum muslimin dan tidak membebaskan tawanan dari Yahudi dan Nashrani, maka Syaikhul islam ibnu Taimiyah mengirim surat kepada Tartar, beliau berkata,”Kalian harus membebaskan semua tawanan dari Yahudi dan Nashrani juga karena mereka berada dalam tanggungan kami (ahli dzimmah).”

Berbeda dengan selain islam, inilah Richard panglima perang pasukan salibis ketika menawan tiga ribu muslim, ia memberikan keamanan lalu membunuh semuanya.

Islam memerintahkan untuk berbuat baik kepada orang di luar islam, namun dengan syarat selama mereka tidak memerangi. Allah Ta’ala berfirman :

لاَ يَنْهَاكُمُ اللهُ عَنِ الَّذِيْنَ لَمْ يُقَاتِلُوْكُمْ فِي الدِّيْنِ وَلَمْ يُخْرِجُوْكُمْ مِّنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوْهُمْ وَتُقْسِطُوْا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ.

“Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (Al Mumtahanah : 8).

 

Peraturan yang adil dan menjunjung persamaan di depan hukum.

Allah Ta’ala berfirman :

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوْا الأَمَانَاتِ إِلىَ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوْا بِالْعَدْلِ.

“Sesungguhnya Allah memerintahkanmu untuk melaksanakan amanah kepadanya yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum diantara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil.” (An Nisaa : 58).

Ayat ini menyuruh berlaku adil diantara semua jenis manusia, bukan suatu umat tanpa umat lainnya, atau suatu jenis tanpa jenis yang lainnya, atau suatu warna kulit tanpa warna kulit lainnya. Dan Allah memperingatkan agar tidak meninggalkan keadilan selama-lamanya.

فَلاَ تَتَّبِعُوْا الْهَوَى أَنْ تَعْدِلُوْا.

“Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari keadilan.” (An Nisaa : 135).

Keadilan islam tidak akan tegak kecuali dengan memahami secara mendalam tentang hakikat persamaan manusia di depan hukum Allah Ta’ala yang berfirman :

يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوْبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوْا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ.

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari laki-laki dan wanita, dan Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan berkabilah-kabilah. Sesungguhnya yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa diantara kamu.” (Al Hujurat : 13).

Dalam khutbah wada’ yang terkenal, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Wahai manusia, SesungguhnyaRabb kamu adalah Esa, dan sesungguhnya ayah kamu adalah satu, tidak ada keistimewaan orang arab atas selain Arab, tidak pula selain arab atas orang arab, tidak pula yang berkulit merah atas kulit hitam, tidak pula kulit hitam atas kulit merah kecuali dengan ketaqwaan.” (HR Ahmad).[11]

Islam sangat membenci fanatik golongan, etnis, kesukuan, warna kulit dan simbol-simbol lainnya, karena ia termasuk perangai jahiliyah, Nabi bersabda,” Sesungguhnya Allah telah menghilangkan dari kamu kebanggan jahiliyah, dan berbangga dengan nenek moyang. Manusia ada dua macam : mukmin yang bertaqwa dan fajir yang buruk, kamu adalah anak-anak Adam, dan Adam tercipta dari tanah. Hendaklah orang-orang meninggalkan berbangga-bangga dengan kaumnya (nasionalis) karena ia adalah salah satu arang Neraka Jahannam.” (HR Abu Dawud dan Tirmidzi).[12]

Itulah sekelumit gambaran keindahan islam yang memberikan pesan kepada kita bahwa islam bukanlah agama yang menganjurkan teror dan berbuat kerusakan, namun untuk memberikan kebahagian bagi manusia di dunia dan akhirat.

Wallahu a’lam

 


[1] HR Bukhari no 5999, dan Muslim 4/2109 no 2754.

[2] Bukhari no 39.

[3] Ibnu Qayim, ighatsatulahfan hal 544.

[4] Al Qowa’id wal ushul jami’at hal 5-8.

[5] Bukhari no 3015, dan Muslim no 1744.

[6] Bukhari no 3318, dan Muslim no 2242.

[7] Bukhari no 6009, dan Muslim no 2244.

[8] Muslim no 1955.

[9] Bukhari no 48, dan Muslim no 116.

[10] Bukhari no 6064, dan Muslim 2563.

[11] Ahmad dalam musnadnya 5/411, dan dishahihkan oleh Syaikh Al Bani dalam ghayatul maram no 313.

[12] Abu Dawud no 5116, dan Tirmidzi no 3270, dan dihasankan oleh Syaikh Al Bani dalam ghoyatul maram no 312.

 

 

 

 

 


Silakan login untuk menulis komentar.

ARTIKEL TERKAIT

Kunci Kusyu dalam Shalat
Kunci Kusyu dalam Shalat
Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc - 6 years ago
Bahasa yang Paling Mulia
Bahasa yang Paling Mulia
Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc - 6 years ago
Alam Nasyrah Laka Shodrok
Alam Nasyrah Laka Shodrok
Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc - 5 years ago
Berpegang Kepada Jamaah Kaum Muslimin dan Pemimpinnya
Berpegang Kepada Jamaah Kaum Muslimin dan Pemimpinnya
Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc - 7 years ago
Iman dan Amal
Iman dan Amal
Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc - 7 years ago
Tak Sesuai Harapan
Tak Sesuai Harapan
Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc - 6 years ago
Pencari Kayu Bakar di Malam Hari
Pencari Kayu Bakar di Malam Hari
Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc - 3 years ago
Jangan Merasa Paling Benar !!
Jangan Merasa Paling Benar !!
Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc - 3 years ago
Peringatan Isra Miraj
Peringatan Isra Miraj
Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc - 5 years ago
Hormati
Hormati
Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc - 6 years ago
© 2019 - Www.SalamDakwah.Com